Belajar Sukses dari Bang MORA

BANG MORA


Mora halomoan lombantoruan, itulah nama seorang mahasiswa Indonesia yang menjadi korban penembakan mahasiswa korea di Virginia Tech Amerika. Kenaa saya menyebut bang Mora karena dalam adat batak, dia adalah abang saya juga.

Bang Mora adalah salah seorang indonesia yang memiliki semangat untuk bisa berubah dan apalagi menjadi kaya.

Dalam hal ini kekayaan yang sangat luas. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi kaya dengan pengtahuan yang dimilikinya, sehingga ia memberanikan diri untuk sekolah keluar negri tepatnya di Virginia Tech University dengan mengambil program Doctoral dibidang teknik sipil.


Sungguh langkah yang sangat membanggakan buat saya sebagai anak batakyang memiliki abang sehebat dia. Padahal orang tuanya hanya pensiunan ABRI, sama seperti ayah saya yang hanya pegawai negri sipil yang mengabdi bagi negara ini.

Perjuangan bang mora untuk meraih pendidikan tertinggi dan keluar dari kemiskinan dalam pendidikan merupakan teladan bagi saya, yang mana dia mampu menujukan pada dunia bahwa orang indonesia bisa sukses dan pintar dimana dia berada.

Ketika saya menulis judul ini, saya tidak dapat memendam perasaan saya untuk tidak meneteskan air mata, tetapi saya tidak bisa memendamnya. Genangan air mata jatuh pada halaman ini. Rasa bangga dan haru kepada bang mora tinggi sekali, apalagi ketika melihat pemakaman dia ditelevisi, saya sangat terpukl namun bangga memiliki abang sehebat bang mora.

Bang mora menamatkan program strata satunya di Universitas Khatolik Parahiyangan (UNPAR) dan s2 nya di UNPAR juga. Tempat ini banyak sekali memberikan kenangan bagi saya yang sangat mendalam, walaupn saya tidak berkuliah dikampus itu, tetapi saya sangat sering mengunjungi kampus tersebut dikarenakan adanya tambatan hati saya yang berkuliah dikampus ini.

Wanita yang pernah ada dalam hidup saya juga bersekolah dikampus itu. Dan wanita-wanita lain yang pernah ada didalam kehidupan saya juga berasal dari kampus ini. Pernah sih bermimpi untuk bersekolah dikampus itu dan memperoleh program master. Apalagi jika yang menyematkan toga saya dan memberikan gelar kepada saya ialah Prof. Paulus, sama seperti dosen yang dikagumi bang mora dan pernah sekolah di Virginia Tech juga….. duh bangga sekali rasanya jika pengalaman ini bisa terwujud, pasti saya langsung maka disarwang (sari wangi >> tempat makan dijalan menjangan). Wah rasanya enak sekali. Mengingat mantan saya yang dahulu memperkenalkan warung ini. Uuhh pengen makan rasanya.

Ini adalah hubungan batin yang tidak bisa terpisahkan antara saa dan bang mora. Bang mora bisa membuktikan bahwa dirinya bisa kaya. Yang saya tahu pastinya bang mora kaya dalan segala hal baik pikiran, perbuatan, dan cintanya kepada orang tua, dan bangsa ini. Sehingga diakhir hidupnya ibunda terkasih memberikan penghormatan terakhir sebagai pahlawan Engenering Indonesia. Waw, sungguh merupakan kebanggaan yang tak habisnya memiliki anak seperti bang Mora.

Inilah teladan yang harus kita miliki untuk menjadi kaya. Bukan hanya orang yang menjadi tolak ukur kekayaan kita, tetapi semangat untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik dan memberikan cinta kepada orang disekitar kita yang merupakan modal kekayaan sejati dalam hidup.

Bang mora selalu kukenang dalam setiap langkahku yang masih panjang untuk menapaki kehidupan ini. Takkan pernah ku berhenti belajar dari orang epertimu. Dan selalu bersyukur memiliki keluarga dan orang yang kita cintai mengasihi kita tanpa henti.

Ibu Sugiarti merupakan sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya (bang mora). Sama seperti mama saya, mmmm….. pengen nangis lagi kalo inget mama. Mama sangat berati sekali dalam hidup saya. Semangat hidupnya sangat besar sekali untuk bisa menyekolahkan saya beserta kakak dan adik saya hingga perguruan tinggi. Walaupun ayah saya hanya seorang PNS di rumah sakit.

Ini merupakan modal kekayaan yang saya miliki, namun kekayaan itu sangat luas artinya. Dalam hal ini saya mengutip tulisan Andreas Harefa walau kita sedang dalam proses pembelajaran.

Kaya atau miskinnya kita tidak ditentukan oleh status kita, tetapi oleh semangat untuk terus belajar dan belajar tiap hari. Walaupun bang mora tewas dibunuh oleh teman satu kampusnya sendiri, namun kita harus tetap memperjuangkan kekayaan sejati alam hidup kita. Hidup adalah belajar, dan belajar untuk hidup. Kalo bang mora bisa, bagaiman dengan anda?.

Salam MANTAB ( Manusia Tanpa Batas)

Mario Einstain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s